Fotografi di Mata National Geographic

Kurang lebih pukul sebelas malam. Saya berada di sebuah mini market 24 jam. Usai mengambil gambar di Plaza Indonesia Men’s Fashion Week 2013. Setelah membeli beberapa barang, saya tak langsung beranjak. Dihentikan oleh foto wajah seorang perempuan muda Afghan yang sudah sangat akrab. Terselip di deretan majalah di samping kiri bawah meja kasir. Dia mengenakan scarf sebagai penutup rambut. Matanya menatap tajam ke depan.

“Steve McCurry,” pikir saya. Langsung mengingat nama juru fotonya. Tangan saya pun refleks mengambil majalah yang sudah terbit sejak 1888 itu. Ya, National Geographic (Natgeo)!

Jika saja foto di sampul majalahnya tak cukup kuat bercerita, kemungkinan besar tak akan mengusik perhatian saya untuk meraih dan membelinya. Sungguh beruntung, karena tema yang diangkat majalah gaek itu sangat menarik: The Photography Issue. Edisi memperingati 125 tahun Natgeo (1888-2013). Saya seperti mendapat satu sambungan pembicaraan dengan seorang kawan yang sempat menyinggung soal sepinya tema-tema klasik dalam dunia fotografi Indonesia. Soal itu akan saya ulas di bagian akhir tulisan ini.

The Photography Issue. Apa yang diulas dalam topik itu, dan pelajaran apa yang bisa saya ambil darinya?

Natgeo lahir dan dibesarkan oleh masyarakat ilmiah yang tertarik dengan pengetahuan dan pendidikan geografi. Misinya memperluas dan menyebarkan pengetahuan geografi sekaligus memperkenalkan budaya, sejarah dan kekayaan alam yang tersebar di dunia. Tujuannya, seperti pernah disampaikan John M. Fahey, Jr. (Presiden, CEO sekaligus Ketua Natgeo Society) adalah menginspirasi orang-orang untuk peduli pada planet tempat dimana kita tinggal.

“Pengetahuan”, “pendidikan” dan “kepedulian” pada lingkungan (manusia dan alam) adalah tiga kata kunci yang mendasari seluruh kerja dan sepakterjang Natgeo hingga kini. Begitu pun dalam aspek fotografi yang mereka produksi dan kembangkan.

Foto-foto yang diterbitkan Natgeo selalu menarik dan kerap mengundang decak kagum. Tak hanya dari sisi visual, juga (dan yang terpenting) muatan kisahnya. Saya sering diusik untuk merenung dan bepikir tentang dunia dan kehidupan di sekeliling kita.

Kemampuan berkisah menjadi hal mendasar bagi Natgeo. Fotografi dimaknai sebagai alat menjelajah hal-hal baru, proses menuju pendalaman batin, juga alat perubahan. Disitulah letak kekuatan fotografi. “Photographers use their cameras as tools of exploration, passports to inner sanctums, instrument for change. Their images are proof that photography matters—now more than ever.” Demikian Natgeo memandang fotografi dan peran para juru foto.

“Foto adalah bukti kuat yang tak dapat disangkal,” kata Brian Skerry, seorang jurnalis foto bawah air. “Adalah senjata untuk melawan kekeliruan. Merupakan saksi kebenaran,” kata Brent Stirton, juru foto dokumenter yang banyak mengangkat isu konflik, kesehatan dan lingkungan itu.

Pandangan Natgeo tentang fotografi tak lepas dari pemikiran mendiang Robert Gilka (1916-2013)—Direktur Fotografi Natgeo yang legendaris itu—yang sangat menekankan pentingnya kemampuan berkisah bagi para juru foto dalam berkarya. Seperti dicatat Cathy Newman, “Gilka wasn’t looking for photographers. He was looking for storytellers.”

Prinsip dan tradisi itu terus dijaga. Jika tidak, tak mungkin foto-foto sarat kisah karya Steve McCurry, Brent Stirton, Sebastiao Salgado, dan lain-lain (lihat daftar di bawah) ditampilkan kembali untuk mengisi edisi perayaan ke-125 tahun Natgeo.

***

Apa yang saya temukan dalam edisi 125 tahun Natgeo menjadi semacam sambungan pembicaraan dengan seorang kawan juru foto kurang lebih dua pekan silam. Dia menceritakan pengalamannya menyeleksi beberapa portfolio foto. Tapi saya lupa dalam rangka apa dia mengerjakan itu.

Menurutnya, sebagai foto an sich, secara visual relatif bagus. Tapi, sebagian besar foto-foto itu hampa. Tak berkisah apa-apa. Orang memang bisa meniru dan berusaha mengikuti aliran foto dan gaya fotografi si A atau si B atau siapapun itu, kata dia. Tapi banyak orang tidak sadar (atau tidak tahu?) bahwa seorang juru foto meminati aliran tertentu dengan gaya tertentu adalah hasil dari proses sejarah yang tak dicapai dalam waktu singkat. Melewati proses belajar di luar soal-soal teknik dan peralatan fotografi. Bukan lahir dari sebuah kecenderungan (trend). Dia menduga, karena faktor itulah foto-foto yang diseleksinya tak berjiwa.

Selain itu, munculnya kecenderung memiliki kamera DSLR (Digital Single-Lens Reflex) sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan, didukung oleh kemudahan memperoleh kamera dan mengoperasikannya sebagai penyebab lain. Tidak ada proses pemahaman mendalam tentang alasan mengapa kita membuat foto selain untuk menampilkan gambar diri, keluarga dan kawan-kawan dekat di media dan jejaring sosial dunia maya.

Kisah kawan saya tak berhenti di situ. Dia pun mempertanyakan hilangnya (atau lebih tepatnya minimnya) tema-tema klasik dalam dunia fotografi Indonesia. Diantaranya soal kemiskinan. Menyimak itu saya teringat kawan lain, seorang wartawan, yang belum jauh berselang hari sempat melontarkan pertanyaan yang kurang lebih, “apakah street photography itu memang cuma memotret kemiskinan? Mengapa kebanyakan kawan saya menganggap dan mengidentikkan street photography melulu sebagai foto kemiskinan dan penderitaan? Menurut saya tidak begitu,” katanya penuh penekanan.

Ya, memang tidak begitu. Sepengetahuan saya street photography adalah aliran fotografi yang mendokumentasikan berbagai aktivitas masyarakat perkotaan, khususnya yang berlangsung di area-area publik, terutama jalanan. Termasuk juga berbagai sarana dan prasana yang ada di perkotaan. Banyak hal yang bisa disorot di sana. Tentang apa yang menarik untuk diangkat dan alasan mengapa itu penting kembali ke cara pandang dan pemikiran si juru foto. Apakah seorang street photographer yang hanya menyoroti aspek kemiskinan di perkotaan dianggap benar, sementara yang tidak dianggap salah, atau sebaliknya, tentu tidak demikian. Sekali lagi, bergantung pada gagasan dan latar belakang yang mendasari si juru foto yang bersangkutan.

Cukup lama saya bepikir merenungkan semuanya. Hal yang bisa saya catat dari obrolan bersama dua orang kawan di atas ditambah informasi berharga dalam edisi 125 tahun Natgeo, bahwa untuk membuat foto yang bermakna kita dituntut mempelajari hal-hal yang lebih mendasar sifatnya. Jauh melampaui bahasan tentang peralatan dan teknik fotografi (meski itu penting). Belajar mengenali dan memahami kenyataan di sekeliling kita secara seksama, yang merupakan bagian dari kehidupan kesaharian kita. Karena semua berawal dari situ. Bagi saya yang memiliki latar belakang pendidikan antropologi, sudah saatnya membuka kembali buku-buku kajian antropologi dan membandingkannya dengan kenyataan. Atau setidaknya, memikirkan kembali hal-hal penting yang pernah saya pelajari dalam antropologi dan ilmu sosial pada umumnya sambil melihat lebih jeli ke dalam dan sekitar lingkungan kita.

Daftar juru foto (berdasarkan abjad):

Abelardo Morell
Brent Stirton
Brian Skerry
David Guttenfelder
Ed Kashi
George Steinmetz
James Balog
Jim Brandenburg
Joel Sartore
John Stanmeyer
Lynsey Addario
Lynn Johnson
Marcus Bleasdale
Martin Schoeller
Mattias Klum
Michael Nichols
Paul Nicklen
Sebastiao Salgado
Simon Norfolk
Stephanie Sinclair
Steve McCurry
William Albert Allard



Leave a Reply