Skeptis dalam Street Photography

Pengemis dalam bingkai kemiskinan di perkotaan banyak menarik perhatian. Selain para peneliti sosial, juga juru foto dokumenter. Meski tidak ada data persis, saya menduga ada cukup banyak foto dalam tema kemiskinan yang menampilkan gambar pengemis.

Kemiskinan adalah tema klasik dalam dunia fotografi. Selalu ada peminatnya, meski mungkin tak sebanyak yang menggemari fotografi pemandangan dan komersial. Tujuannya beragam. Sebagai kritik, juga paparan kenyataan untuk mengusik kesadaran orang tentang kenyataan sosial di sekeliling kita.

Pengemis! Benarkah pengemis merupakan bagian dari realita kemiskinan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung? Tepatkah belas kasihan dilimpahkan pada mereka? Tepatkah menampilkan keberadaan mereka dalam bingkai wajah kemiskinan di perkotaan?

Pertanyaan itu muncul didasari beberapa temuan bahwa pengemis yang sering kita anggap sebagai orang-orang yang terdesak secara ekonomi dan tak memiliki jalan lain selain meminta-minta—karena cacat fisik atau renta misalnya—dalam kenyataannya tak sepolos itu. Pengemis sudah menjadi satu “profesi” yang diadasari itung-itungan ekonomi rasional. Para pelakunya bahkan mampu memperkaya diri dari mengemis. Mereka bukanlah kaum miskin yang layak dikasihani dengan recehan seribu rupiah.

Beberapa media sempat mengekspos masalah tersebut. RCTI misalnya, pernah mengungkap satu dusun di Kabupaten Kediri yang sebagian besar penduduknya beroperasi sebagai pengemis di Jakarta. Para pengemis yang bertebaran di Jakarta datang juga dari Jawa Barat (Cirebon, Indramayu, Subang, Bogor, Karawang, Bekasi, Cianjur, dan Sukabumi), dan Jawa Tengah (Tegal, Pemalang, Brebes, Semarang, dan Pekalongan). Keberadaan mereka terorganisasi.

Salah satu kawasan yang biasa ditinggali para pengemis di Jakarta adalah Kebon Singkong (Detik, Mengemis di Kota Hidup Mewah di Desa). Di sini terdapat ratusan pengemis yang mengontrak rumah. Menjelang bulan puasa jumlah mereka bertambah. Mencapai 200-300 orang yang menyusul datang.

Sebagai “hiasan” kota, penampilan mereka berhasil mengusik iba dan empati banyak orang. Tampak miskin dan menderita. Padahal, di kampung asalnya, mereka hidup mewah. Ada yang memiliki beberapa rumah dan kendaraan roda empat. Jelas mereka bukan kaum miskin!

Diletakkan dalam konteks street photography, selayaknya kita berpikir kembali agar tidak gegabah meletakkan pengemis dalam bingkai kemiskinan perkotaan. Dalam bingkai apa mereka selayaknya diletakkan, mari kita pikirkan bersama. Satu hal yang sudah jelas, kita senantiasa bersikap skeptis terhadap realitas sosial di sekeliling kita.

Tulisan terkait Fotografi di Mata Natgeo



Leave a Reply